ads


Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Sponsor

 Space Iklan Kosong...!! Pajang iklan Anda disini Hubungi Redaksi
Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Lainnya BP Batam, Purba Robert M Sianipar Bersama Nippon Koli Ltd Saat Menggelar Konfersi Pers (Fhoto : Realitasnews.com)

BATAM, Realitasnews.com– Kontrak PT Adhya Tirta Batam (ATB) akan berakhir tahun 2020 mendatang. BP Batam akan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk mengambil alih PT ATB tersebut. Agar pelayanan tidak terjadi saat kontrak tersebut habis BP Batam melakukan kajian untuk meningkatkan penyedian infrastruktur air bersih.

“Saat PT ATB habis kontrak maka BP Batam perlu mempersiapkan karyawan dan meningkatkan suplay air bersih di Batam,” kata Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Lainnya BP Batam, Purba Robert M Sianipar saat menggelar konfersi pers penandatanganan MoU BP Batam dengan pemerintah Jepang melalui Nippon Koli Ltd yang digelar di ruang marketing Bifza BP Batam, Selasa (26/9/2017).
 
MoU ini untuk melakukan kajian terkait peningkatan penyedian infrastruktur air bersih di Batam. Kajian ini dibiayai oleh Meethi melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR)
 
Penandatanganan MoU itu dilakukan oleh Team Leader Nippon Koli Ltd, Shiochiro Misaki didampingi oleh perwakilan Nippon Koli Ltd Indonesia, Togar.
 
Menurut Robert kajian ini sangat penting mengingat pengalaman tahun 2015 lalu akibat perubahan iklim Batam mengalami kekeringan air selama 10 bulan.
 
“Agar kejadian tahun 2015 lalu tidak terjadi lagi maka perlu dilakukan kajian untuk meningkatkan sumber air bersih,” katanya.
 
Hal senada dikatakan, Kepala Kantor Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan yang ikut hadir dalam konfersi pers tersebut mengatakan kerja sama ini bukan hanya untuk mengkaji suplay air bersih dan pengolahan air limbah domestic saja  namun juga untuk mengkaji cattment area.
 
“Saat ini jika musim hujan ketersedian air berlimpah namun ketika musim kemarau kita selalu kekurangan air,” kata Binsar
 
Kajian ini juga mengkaji bagaiman mempertahankan ketersedian air disaat musim kemarau, jadi kerja sama dengan Nippon Koli Ltd ini juga untuk mencari sumber sumber air lainnya yang selama ini sumber air hanya berasal dari waduk yang sebagian besar bersumber dari air hujan.
 
“Nippon Koli Ltd ini akan melakukan penelitian bagaimana memanfaatkan air limbah domestic dan melakukan kajian desalinasi air laut untuk diolah menjadi air tawar,” jelasnya.
 
Saat ini dikataknnya, produksi air PT ATB berkisar 3400 liter perdetik dan 70 persen dari jumlah tersebut menjadi limbah.
 
“Nippon Koli Ltd akan melakukan kajian untuk mengolah air limbah domestic itu untuk dijadikan sumber air bersih yang akan dialirkan ke waduk waduk yang ada saat ini,” jelasnya.
 
Binsar mengatakan saat ini yang sering terjadi adalah air limbah domestic itu sering bercampur dengan sampah dan waduk kerap ditumbuhi oleh eceng gondok.
 
“ Nippon Koli Ltd akan melakukan kajian untuk menciptakan sebuah alat yang dapat memisahkan sampah atau eceng gondok itu agar tidak masuk ke dalam waduk sehingga air itu gampang diolah menjadi air bersih untuk dikonsumsi masyarakata Batam,” ujar Binsar.
 
Team Leader Nippon Koli Ltd, Shiochiro Misaki dalam pemaparannya yang diterjemahkan oleh  Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Lainnya BP Batam, Purba Robert M Sianipar mengatakan study mereka akan selesai akhir Februari tahun 2018 mendatang sedangkan untuk pengumpulan data akan selesai pada akhir Desember 2017 ini.
 
Dari analisa Nippon Koli Ltd saat ini penduduk kota Batam sekitar 1,3 juta jiwa ditahun 2030 medatang maka penduduk kota Batam diperkirakan berkisar 2,8 juta jiwa. “Jadi agar Batam tidak kekurangan air bersih perlu ditingkatkan infrastruktur sumber air makanya perlu dilakukan kajian ini dan kami telah berhasil melakukan kajian di Jakarta dan Aceh.,” jelasnya.
 
BP Batam akan menyiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan oleh Nippon Koli Ltd untuk dibawa ke Jepang dan melakukan pra study kelayakan dan mempelajari dampak lingkungan sosial serta melakukan estimasi biaya jika peningkatan infrastruktur itu dilakukan.
 
Robert kembali menambahkan bahwa terkait penerapan desalinasi air laut akan diusahakan menggunakan cost yang rendah lantaran proses Desalinasi air laut tersebut membutuhkan energy yang tinggi untuk itu perlu dilakukan kombinasi dengan menggunakan energy solar agar cost proses desalinasi air laut itu tidak terlalu tinggi.

Namun sangat disayangkan Misaki tidak bersedia menjelaskan perbandingan harga air perkubik dari teknologi yang mereka lakukan dengan harga air yang dijual PT ATB saat ini.

“Mengenai perbandingan harga air dari teknologi yang mereka ciptakan dengan harga air produk PT ATB saat ini ia tidak bersedia menjelaskannya,” kata Robert
 
Robert juga mengatakan selain pemamfaatan air limbah domestic dan desalinasi air laut alternative lain untuk menyuplay air bersih agar kelak Batam tidak kekurangan air bersih BP Batam mungkin akan mengalirkan air dari Bintan atau dari Lingga.
 
“Kalau dari Lingga mungkin dananya terlalu besar jadi tidak mungkin dilakukan,” katanya.
 
(Lian)

About Redaksi News

www.realitasnews.com Terwujud sebagai portal berita independen dan menyuguhkan informasi kepada masyarakat serta mengungkap fakta dengan data.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Top