ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Sponsor

 Space Iklan Kosong...!! Pajang iklan Anda disini Hubungi Redaksi
Foto: Presiden Jokowi (dok Setpres/detik.com)


JAKARTA, Realitasnews.com  - Akhir pekan, Sabtu (22/4/2017) lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah membuka Kongres Ekonomi Umat 2017 di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Saat bicara soal redistribusi aset dan reformasi agraria, Jokowi tiba-tiba menyinggung soal pergantian atau pergeseran menteri, apa ujungnya?

Menurut dia menteri yang tak bisa menyelesaikan target bisa diganti, digeser atau dicopot. "Saya bekerja selalu memakai target jadi Pak Menteri tidak pernah bertanya kepada saya, targetnya terlalu besar atau terlalu gede, itu urusan menteri. Tahu saya target itu harus bisa diselesaikan. Kalau tidak selesai urusannya akan lain, bisa diganti, bisa digeser, bisa dicopot dan lain-lain," kata Jokowi saat membuka peresmian Kongres Ekonomi Umat (KEU) 2017 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu (22/4/2017).

Saat Jokowi membuka pidato, ada sejumlah menteri di ruangan itu. Mereka antara lain: Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Mensesneg Pratikno, Menteri Koperasi UKM Puspayoga dan Menkominfo Rudiantara.

Sebaris kalimat Jokowi soal pergantian menteri tersebut kemudian memunculkan isu bakal adanya reshuffle kabinet jilid III. Presiden Jokowi pun buru-buru membantah bakal ada perombakan kabinet dalam waktu dekat.

Syahdan. Presiden Jokowi tak hanya sekali ini saja menyentil soal reshuffle kabinet di depan Menteri Agraria dan Tata Ruang. Pada Sabtu, 26 Desember 2015 lalu di Boyolali, Jawa Tengah, Jokowi juga menyinggung soal pergantian kabinet.

"Saya selalu memantau pembangunan-pembangunan infrastruktur di daerah karena ini sangat penting. Jika saya monitor penggarapan jalan terasa lambat, saya langsung tanya mengapa lambat. Dijawab ada masalah pembebasan tanah, saya langsung telepon Menteri Agraria agar segera menyelesaikan persoalan itu. Saya beri waktu 1,5 bulan, kalau belum juga dikerjakan maka saya beri rapor merah. Itu yang nanti kena reshuffle. Begitu cara saya bekerja," kata Jokowi kala itu.

Lagi-lagi Jokowi kemudian membantah akan ada reshuffle. Namun faktanya, enam bulan kemudian tepatnya Juni 2016 Jokowi merombak susunan kabinetnya. Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan diganti Sofyan Djalil.

Lalu, apa makna kalimat Jokowi yang akan mengganti, menggeser, bahkan mencopot menteri yang tak mencapai target?

Direktur Eksekutif IndoBarometer M. Qodari mengatakan bahwa kalimat Jokowi soal kemungkinan mengganti menteri yang tak mencapai target tentu bukan tanpa alasan. "Pernyataan itu tak mungkin jatuh dari langit, bukan jatuh di ruang hampa. tentu ada sebabnya dan itu tergantung tafsir orang," kata Qodari kepada wartawan, Rabu (26/4/2017).

Menurut dia, ada dua kemungkinan tafsir atas pernyataan Jokowi tersebut. Pertama memang kalimat tersebut disampaikan Jokowi melihat kinerja menterinya yang memang tak sesuai target.

Tafsir kedua, pernyataan Jokowi tersebut ditujukan kepada menteri-menteri yang partainya mbalelo. "Ini habis Pilkada Jakarta, ada partai yang mbalelo ada juga tokoh mbalelo. Ini bisa jadi peringatan buat yang mbalelo, Presiden akan mengeluarkan reshuffle," tutur Qodari.
(detik.com)

About Redaksi News

www.realitasnews.com Terwujud sebagai portal berita independen dan menyuguhkan informasi kepada masyarakat serta mengungkap fakta dengan data.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Top