Ads (728x90)


postviews postviews postviews

Dilihat kali


TEBINGTINGGI, Realitasnews.com
–  Direktur Akper Bina Husada Tebingtinggi, Dra. Lely Yuliana.S.ST.M.Kes dan Pembina Yayasan Bina Husada Prof.Paul Sirait memimpin acara wisuda 31 mahasiswanya pada Rabu (12/12/2018) di Gedung Balai Kartini.

Acara wisuda itu juga dihadiri oleh Walikota Tebingtinggi, H.Umar Zunaidi Hasibuan yang  diwakili oleh staf ahli bidang Hukum dan Politik,  Bambang Sudaryono, PPNR Provinsi Sumut yang diwakili dan mewakili Ketua LL Dikti Wilayah I Sumatera Utara serta para orang tua wisudawan/wati dan para dosen.

Walikota Tebingtinggi, H.Umar Zunaidi Hasibuan dalam sambutannya yang disampaikan oleh staf ahli bidang hukum dan politik,  Bambang Sudaryono mengatakan seseorang yang sudah diwisuda apalagi yang memiliki disiplin ilmu keperawatan dalam menjalankan profesinya akan bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Ia menyebutkan seorang yang sudah diwisuda harus memikul tanggung jawab sebagai cendikiawan, yang berfikir, bersikap dan bertindak intelektual.

“ Pada hakekatnya pendidikan merupakan upaya pemberian pengalaman bagi peserta didik dan ini menjadi stimulus bagi perubahan prilaku potensial peserta didik,” katanya.

Dikatakannya, setiap peserta didik setelah mengikuti pendidikan mempunyai pengalaman baru yang tidak dimiliki sebelumnya dan kemampuan ini menjadi modal dasar bagi pengembangan diri untuk menjawab tantangan hidup.

Acara wisuda, lanjutnya,  merupakan tradisi bagi setiap perguruan tinggi dan mengandung arti penting yakni pengukuhan dan pengakuan bahwa setiap wisudawan/wati telah masuk dalam fase kehidupan yang lebih berwawasan akademik yang ditunjukkan dalam pemikiran dan tindakan yang profesional dan lebih maju.

“Walau sudah diwisuda, tapi jangan pernah berhenti belajar sebab menuntut ilmu tidak pernah berhenti kecuali sampai keliang lahat,” katanya.

Lebih lanjut disebutkannya bahwa saat ini sedang terjadi revolusi industri 4.0 yang akan mengurangi peran manusia kepada mesin robot, digital dan elektrik, untuk itu kita harus mampu mencari peluang yang tidak bisa dikerjakan robot.

Ia menyebutkan bahwa mesin-mesin tersebut tidak memiliki perasaan, tidak punya kreatifitas dan inovasi, dan peluang inilah yang harus dapat dimanfaatkan oleh setiap manusia.

“Semoga wisudawan/wati dapat mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat melalui pengabdian yang sebaik-baiknya dan tidak pernah cepat puas bergerak maju melakukan terus menerus, tanggungjawab utama adalah kepada diri sendiri, orang tua, masyarakat serta bangsa dan negara,” tutupnya (Jan)

Post a Comment

Disqus